MAKNA SIMBOLIK IBADAH SEMBAHYANG PURNAMA DALAM AGAMA BUDDHA (Studi Kasus di Vihara Dharmakirti Palembang)

AGUSTIN, SUSAN (2021) MAKNA SIMBOLIK IBADAH SEMBAHYANG PURNAMA DALAM AGAMA BUDDHA (Studi Kasus di Vihara Dharmakirti Palembang). Undergraduate Thesis thesis, UIN RADEN FATAH PALEMBANG.

[img]
Preview
Text
1.pdf

Download (712kB) | Preview
[img]
Preview
Text
2.pdf

Download (434kB) | Preview
[img]
Preview
Text
3.pdf

Download (445kB) | Preview
[img]
Preview
Text
4.pdf

Download (924kB) | Preview
[img]
Preview
Text
5.pdf

Download (10kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DPUSTAKA.pdf

Download (312kB) | Preview
[img]
Preview
Text
KOVER.pdf

Download (276kB) | Preview

Abstract

Penelitian ini berjudul: MAKNA SIMBOLIK IBADAH SEMBAHYANG PURNAMA DALAM AGAMA BUDDHA (Studi Kasus Di Vihara Dharmakirti Palembang). Sembahyang purnama adalah sembahyang yang dilakukan oleh umat Buddha pada tanggal 1, 8, 15, dan 23 menurut penanggalan lunar (bulan). Bagi aliran Mahayana pelaksanaan sembahyang purnama hanya dilaksanakaan pada tanggal 1 dan 15 pada penanggalan bulan. Berdasarkan latar belakang rumusan masalah, peneliti sangat tertarik akan adanya makna simbolik ibadah sembahyang purnama yang ada dalam agama Buddha. Berdasarkan hari-hari besar yang ada di dalam agama Buddha seperti sembahyang Waisak, Asadha, dan Magha Puja masing-masing sembahyang dilaksanakan pada bulan purnama. Oleh karenanya, penulis meneliti lebih lanjut akan adanya sembahyang purnama dalam agama Buddha yang mana dalam pelaksanaan sembahyangnya belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk memahami makna simbolik ibadah sembahyang purnama dalam agama Buddha yang ada di Vihara Dharmakirti Palembang, disamping itu juga mempunyai tujuan untuk memahami akan makna simbolik yang digunakan dalam pelaksanaan ibadah sembahyang purnama dalam agama Buddha di Vihara Dharmakirti Palembang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian deskriptif kualitatif (field researtch) atau disebut juga sebagai penelitian lapangan. Dalam pengambilan data, penulis melakukan observasi (pengamatan) langsung dilapangan yang berkaitan dengan pelaksanaan sembahyang purnama, proses wawancara (interview), dan dokumentasi yang ada dilapangan. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan antropologi, dan fenomenologi. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu: pelaksanakan sembahyang purnama dalam agama Buddha ini adalah untuk mengenang tiga peristiwa penting yang ada dalam Buddha. (1) adanya kelahiran Sidharta Gautama, yang mana pada saat itu raja Suddhodana dengan permaisurinya ratu Mahamaya belum mempunyai keturunan dan ratu melakukan tapa selibat pada bulan purnama dan akhirnya dikaruniai kelahiran seorang putra. (2) adanya pencapaian pencerahan sempurna (menjadi sang Buddha) yang dilakukan dibawah pohon bodhi dan membawa kebahagiaan bagi seluruh umat dan peristiwa itu terjadi pada saat bulan puranama. Hal ini, disebabkan karena sang Buddha melihat orang tua, orang sakit, dan kematian. Sidharta bersedih hati dan akhirnya memutuskan diri untuk menjadi seorang pertapa agar mendapatkan solusi kebahagiaan abadi bagi seluruh umat. (3) mengenang parinibbana Sidharta Gautama (meninggal dunia) juga pada saat bulan purnama. Sembahyang purnama dalam agama Buddha ini juga dimaknai sebagai wujud rasa syukur kepada Yang Maha Esa karena telah memberikan nikmatnya kesehatan, keberkahan hidup, dan ketenangan batin dalam kehidupan ini. Selain itu, adanya sembahyang purnama ini juga menumbuhkan semangat umat Buddha untuk menjalankan latihan 8 sila sesuai ajaran agama Buddha.

Item Type: Thesis (Undergraduate Thesis)
Uncontrolled Keywords: Sembahyang, Purnama, Buddha.
Subjects: Ushuludin dan Pemikiran Islam > Studi Agama - Agama
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam > 76234 - Studi Agama-agama
Depositing User: Armalanda Anto
Date Deposited: 14 Apr 2022 01:48
Last Modified: 14 Apr 2022 01:48
URI: http://repository.radenfatah.ac.id/id/eprint/20224

Actions (login required)

View Item View Item